Pasir Lumajang Tetap Jadi primadona

Jum`at, 17 Februari 2017 11:43:35 - oleh : admin
Rating: 4.0/10 (124 votes cast)

Per Tahun Gunung Semeru Kirim 1 Juta Meter Kubik

 

Pascakekerasan yang berujung pembunuhan Salim Kancil--tokoh kontra eksploitasi tambang pasir Lumajang, di pasar pasir Lumajang hilang dari pasaran. Terjadi krisis pasir di Jatim.

 

Bagi kontraktor bangunan dan jalan, pasir Lumajang menjadi kebutuhan mendesak, terutama untuk kepentingan pembuatan beton. "Kalau bukan pasir Lumajang hasilnya kurang bagus," ujar seorang kontraktor yang sedang mengerjakan proyek di kawasan Jalan Apsari Surabaya, Jumat (30/10/2015).

 

Kini, pasir asal Lumajang hilang dari pasaran. Hal itu tak mungkin dilepaskan dari kejadian kekerasan terkait tambang pasir di daerah setempat. Ada kelompok protambang pasir, di sisi lain ada juga kelompok kontratambang pasir. Kekerasan antarkedua kelompok ini berujung terbunuhnya Salim Kancil dan luka parahnya Tosan--keduanya aktivis kontratambang pasir.

 

Padahal, potensi pasir bangunan di Lumajang sangat besar. Secara alamiah, per tahun ada kiriman pasir sebanyak 1 juta meter kubik. Dari mana? Gunung Semeru. Gunung tertinggi di Pulau Jawa itu memproduk pasir secara alamiah yang tiap tahun dimuntahkan dari puncaknya dengan volume sangat besar: 1 juta meter kubik per tahun.

 

Seumpama harga satuan 1 meter kubik pasir Lumajang Rp 150 ribu, tak kurang potensi riil Rp 150 miliar dikantongi daerah ini dari produk alam Semeru: pasir dengan kualitas nomor wahid.

 

"Memang luar biasa pasir dari Semeru ini," kata Masudi, Sekda Lumajang, Jumat (30/10/2015) usai tampil sebagai pembicara di FGD PWI Jatim tentang polemik tambang (pasir) dan solusinya di Hotel Grand Mercure Mirama di Jalan Raya Darmo Surabaya.

 

Volume pasir Lumajang dengan kualitas nomor wahid itu tersebar merata di sejumlah kecamatan di Lumajang, antara lain: Pasirian, Tempursari, Pronojiwo, Sumbersuko, Tempeh, dan Candipuro. "Pasir ini merupakan bawaan material Semeru dan ditampung di cekdam-cekdam," kata Masudi.

 

Justru kalau pasir ini jika tak ditambang secara proporsional di musim kemarau, kemungkinan besar mendatangkan bencana banjir bandang di musim hujan. Sebab, seiring dengan datangnya musim hujan, banyak material bebatuan, pasir, dan lainnya dari puncak Semeru menggelontor ke kawasan bawah gunung itu dan masuk ke cekdam-cekdam yang ada di sekitar kaki Semeru.

 

"Pasir yang ada di cekdam mesti dieksploitasi secara proporsional. Selain mendatangkan keuntungan ekonomi, juga mencegah terjadinya banjir bandang ketika musim penghujan datang," tegas Masudi.  

 

Untuk Beton Oke, Untuk Jalan Tol Yes

 

Tingkat kualitas pasir dari Gunung Semeru di Lumajang tak ada yang meragukan. Pasir Lumajang sangat baik untuk membuat beton bangunan dan jalan tol.

 

"Ini yang ngomong bukan saya, tapi Wika (PT Wika, perusahaan yang bergerak dalam berbagai produk beton dan konstruksi)," kata Sekda Kabupaten Lumajang, Masudi.

 

Pasir Lumajang yang merupakan produk vulkanologi Gunung Semeru mengandung tanah liat dan material tanah lainnya sangat rendah: Kurang dari 3 persen. Karena itu, material pasir Lumajang sangat bagus untuk pembuatan beton, pasir bahan bangunan rumah, gedung dan bahan konstruksi badan jalan tol.

 

"Kalau tak pakai pasir Lumajang, daya rekatnya kurang maksimal dan rawan merembes atau bocor," ujar seorang tukang bangunan yang mengerjakan pembangunan masjid di Perumahan Gresik Kota Baru (GKB) Gresik.

 

Dengan komposisi dan kualitas seperti itu, tak heran tingkat permintaan pasir Lumajang sangat tinggi, terutama di musim kemarau. Kenapa? Karena di musim tersebut, volume pembangunan fisik meningkat. Tak hanya permintaan pasir yang meningkat tajam, tingkat permintaan semen juga demikian.

 

Soni, Ketua Asosiasi Perusahaan Tambang (Apertam) Jatim, mengatakan, dalam kondisi normal, tak ada proyek besar seperti pembangunan jalan tol, tingkat permintaan pasir bangunan di Jatim per hari mencapai 25 ribu meter kubik. Sedang kalau ada proyek besar, seperti pembangunan jalan tol, tingkat permintaan pasir di Jatim mencapai 40 ribu meter kubik per hari.

 

"Pasokan pasir itu sebagian besar dari Semeru Lumajang. Anda bisa bayangkan sendiri bagaimana kalau penambangan pasir di sana ditutup. Ya Jatim bakal terjadi krisis pasir," ungkap Soni.

 

Pasokan pasir yang diandalkan di Jatim adalah dari kawasan Semeru Lumajang. Tak mungkin pengusaha pasir mengambil pasir dari Sungai Brantas.

 

Sejak tahun 1990-an telah ada kebijakan melarang penambangan pasir di Sungai Brantas. Sebab, eksploitasi pasir di Brantas dipastikan berdampak pada infrastruktur pengairan, dam, waduk, irigasi, dan lainnya di daerah aliran Sungai Brantas.

 

"Brantas mengalami penurunan 27 centimeter ketika terjadi eksploitasi besar-besaran pasir di sana. Brantas pernah diambil pasirnya sebesar 14 ribu meter kubik per hari dan akibatnya terjadi penurunan dasar sungai itu 27 centimeter itu," ungkap Soni.

 

Melihat realitas alamiah seperti itu, maka eksploitasi pasir di Semeru merupakan jalan keluar untuk memenuhi permintaan pasir bangunan di Jatim yang makin meningkat dari tahun ke tahun. Terlebih sekarang pemerintah sedang giat-giatnya menggenjot pembangunan infrastruktur, seperti jalan tol, bendungan, waduk, bandar udara, pelabuhan, dan lainnya.

 

Terlebih-lebih kualitas pasir Lumajang memenuhi spesifikasi untuk pembuatan beton dan bangunan lainnya.

 

"Kini telah diputuskan 15 perusahaan pemegang izin dinyatakan memenuhi syarat melakukan penambangan pasir di Semeru Lumajang. Ada 11 perusahaan boleh menambang secara langsung karena izinnya lengkap," ujar seorang staf Dinas ESDM Jatim saat tampil sebagai pembicara di FGD PWI Jatim. 

 

Pasir Bangunan Mantap, Pasir Besi Lebih Menjanjikan

 

 

Di wilayah Kabupaten Lumajang tak hanya menyimpan potensi pasir bangunan yang luar biasa besar dengan kualitas prima. Ternyata di daerah ini juga tersimpan kandungan pasir besi yang menjanjikan keuntungan besar.

 

Hal itu dikatakan Sekda Kabupaten Lumajang, Masudi saat tampil sebagai pembicara pada kegiatan FGD PWI Jatim bertema: Tambang Pasir, Problem dan Solusi Pemecahannya di Surabaya, Jumat (30/10/2015).

 

"Pasir besi Lumajang berada di kawasan dengan luasan 27 ribu hektar," kata Masudi. Wilayah itu, secara administratif, antara lain berada di di Kecamatan Yosowilangun, Kunir, Tempeh, Pasirian, dan Tempursari.

 

Kandungan unsur Fe (besi) pada pasir besi Lumajang cukup tinggi: 30% sampai 50%. Karena itu, sejumlah korporasi besar telah merebut izin untuk mengeksploitasi pasir besi tersebut. "Katanya pasir besi Lumajang kualitasnya bagus," tegas Masudi.

 

Satu data menyebutkan kapasitas produksi pasir besi di Lumajang mencapai 169 juta ton per tahun, yang merupakan daerah terbesar ketiga penghasil pasir besi setelah Kabupaten Cilacap dengan 605 juta ton per tahun dan Kabupaten Sebuku Kalimantan Selatan dengan produksi 360 juta ton per tahun. Ini potensi luar biasa yang mesti didayagunakan untuk sebesar- besarnya kemakmuran rakyat.

 

Pertentangan antarkelompok di Lumajang dan bahkan luar Lumajang terkait potensi alam itu, tak hanya berhubungan dengan pasir bangunan. Tapi, konflik perebutan sumber daya terkait pasir besi jauh lebih keras dan tajam. Nilai ekonomi pasir besi jauh lebih tinggi dibanding pasir bangunan.

 

Masudi mengatakan, selama ini ada--sebelum kasus kekerasan Selok Awar-awar meledak--izin usaha pertambangan (IUP) di Lumajang ada 38 perusahaan. Sebanyak 34 perusahaan mengantongi IUP untuk eksploitasi pasir bangunan dan 4 perusahaan lainnya IUP pasir besi.

 

Selain itu, ada 14 izin pertambangan rakyat (IPR), 4 IUP operasi khusus untuk pengolahan dan pengangkutan, dan 4 IUP operasi khusus untuk pengangkutan dan pemurnian.

 

"Setelah kejadian 26 September 2015 (kekerasan di Selok Awar-awar), dilakukan pengecekan ulang secara keseluruhan IUP yang ada. Di situ dihasilkan hanya 15 perusahaan memenuhi syarat untuk melakukan penambangan pasir," kata Masudi.

 

sumber: beritajatim.com 

Versi cetak

Artikel Terkait